Teh Jepang dan sejarah singkatnya


Teh pertama kali diperkenalkan ke Jepang dari Cina pada tahun 700-an. Pada Zaman Nara (710-794), teh merupakan produk mewah yang hanya tersedia dalam jumlah kecil bagi para pendeta, bangsawan istana, dan samurai sebagai minuman yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.
Sekitar awal Kamakura Period (1192-1333), Eisai, pendiri Buddhisme Zen Jepang, membawa kembali kebiasaan membuat teh dari bubuk daun dari Tiongkok. Selanjutnya, penanaman teh tersebar di seluruh Jepang, terutama di Kuil Kozanji di Takao dan di Uji.
Selama Periode Muromachi (1333-1573), teh mendapatkan popularitas di antara orang-orang dari semua kelas sosial. Orang-orang berkumpul saat pesta minum teh dan memainkan permainan tebak-tebakan. Setelah minum dari cangkir teh yang dibagikan, peserta menebak nama teh dan dari mana asalnya. Selain itu, mereka mengumpulkan dan memamerkan peralatan teh berharga dan populer di kalangan orang kaya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, versi pesta teh dikembangkan dengan kesederhanaan yang diilhami Zen dan penekanan yang lebih besar pada etika dan spiritualitas. Pertemuan ini hanya dihadiri oleh beberapa orang di sebuah ruangan kecil di mana tuan rumah menyajikan teh kepada para tamu. Dari pertemuan-pertemuan inilah sejarah upacara minum teh di Jepang berawal. Pada perkembangannya teh menjadi tersedia secara luas untuk umum dengan berbagai teknik pengolahan, waktu penyajian, dan berbagai campuran sebagai perkembangan varian baru.
Cara mendapatkan teh di Jepang

Berbagai jenis teh dapat ditemukan di hampir semua mesin penjual otomatis, toko serba ada, atau supermarket. Kamu juga dapat menemukan teh berkualitas tinggi serta teko teh tradisional Jepang yang disebut khusyu di toko-toko khusus teh di seluruh Jepang.
Teh di Jepang bisa dinikmati dengan berbagai cara. Kamu bisa menikmati teh saat upacara minum teh tradisional yang disebut sado. Akan tetapi, minum teh tidak terbatas pada acara-acara resmi. Teh disajikan di rumah dan dalam situasi bisnis sebagai tanda sambutan. Teh sudah menjadi bagian dari keseharian orang Jepang dan seringkali disajikan di restoran secara gratis atau terkadang sebagai pengganti air. Restoran kelas bawah biasanya menyediakan Mugicha, sementara Konacha biasanya disediakan di restoran sushi yang tidak mahal, dan Kocha (teh hitam) biasanya tersedia bersama kopi di kafe dan restoran Barat.
Di beberapa kuil dan taman, teh (biasanya Ryokucha atau Matcha) disajikan untuk wisatawan. Teh biasanya disajikan di ruang tatami yang tenang dengan pemandangan yang indah, bersama manisan Jepang. Terkadang, teh dikenakan biaya terpisah beberapa ratus yen ketika memasuki kuil atau taman.
Tak kalah pentingnya, banyak jenis teh dijual dalam botol dan kaleng di toko-toko dan mesin penjual otomatis di seluruh Jepang. Mereka menyediakan teh panas maupun dingin, namun teh panas jarang tersedia selama bulan-bulan musim panas, terutama di mesin penjual otomatis.
Jenis teh di Jepang


Ketika mendengar kata teh Jepang, yang terbayangkan adalah teh hijau. Padahal teh hijau jelas bukan satu-satunya teh yang dikonsumsi di Jepang; orang Jepang menikmati berbagai jenis teh, panas dan dingin. Terlepas dari jenisnya, dapat dikatakan bahwa teh adalah salah satu minuman yang paling banyak diminum di Jepang.
Jenis teh yang paling populer adalah teh hijau. Teh hijau terhitung setidaknya 90% dari total produksi teh di Jepang. Teh hijau adalah teh paling populer di Jepang. Semua teh hijau Jepang terbuat dari Camelia sinensis var sinensis. Saat ini terdapat lebih dari 100 kultivar teh yang digunakan untuk membuat teh Jepang. Setiap kultivar akan memberikan rasa yang berbeda, warna yang berbeda, dan memiliki ciri yang berbeda pula. Teh yang paling populer adalah Yabukita, yang menyumbang hingga 74% dari total produksi teh hijau. Selain itu, ada Uji hikari untuk membuat Matcha. Teh hitam dan oolong adalah jenis favorit kedua. Teh hitam Jepang masih cukup langka. Mereka dibuat dari kultivar yang berbeda dengan teh India atau China. Teh oolong Jepang juga termasuk kategori langka. Teh oolong atau “uuroncha” cukup populer sebagai es teh dan seringkali memiliki sisi yang lebih teroksidasi. Sedangkan teh hitam putih dan yang difermentasi sangatlah langka, dan hanya dibuat oleh beberapa perkebunan teh.
Wah menarik ya! Yuk kenali berbagai jenis teh di Jepang di postingan selanjutnya, agar ketika kamu berkunjung ke Jepang, kamu bisa mencoba varian teh Jepang lainnya yang tak kalah enak dari Matcha. Sampai ketemu di postingan selanjutnya ya!
aweosm e