Gunung Fuji, Sacred place and source

of artistic inspiration

Siapa yang tahu Gunung Fuji letaknya dimana? Adakah yang tahu tepatnya dimana? Jadi, Fujisan atau Gunung Fuji berada di perbatasan antara prefektur Shizuoka dan Yamanashi.  Gunung berapi aktif ini memiliki tinggi 3776 meter atau sekitar 12.388 kaki. Pada tahun 2013, UNESCO menobatkan Gunung Fuji sebagai salah satu warisan budaya dunia dengan nama Fujisan, sacred place and source of artistic inspiration. UNESCO mengatakan bahwa “the snow-capped peak has inspired artists and poets and been the object of pilgrimage for centuries“. Wah, amazing bukan? Yuk kita telusuri lagi nilai-nilai apa saja yang dilekatkan pada Gunung Fuji ini.

(Sumber: http://whc.unesco.org)

Nilai Seni

Secara khusus gambar Fujisan pada awal abad ke-19 dicetak oleh Katsushika Hokusai dan Utagawa Hiroshige. Gambar ini memiliki dampak yang luar biasa pada perkembangan seni Barat. Sebagaimana yang telah dikatakan UNESCO bahwa keindahan Gunung Fuji telah lama menjadi inspirasi bagi seniman dan penyair yang menghasilkan karya seni luar biasa berupa lukisan, ukiran, puisi, syair, dan lain sebagainya.

 

Baca juga : Keindahan dan sejarah Bunga Sakura

Nilai Nasionalisme

Kemasyuran Gunung Fuji telah menjadikan penampakan alam ini sebagai simbol bangsa Jepang. Simbol yang diagungkan dan dibanggakan. Untuk menanamkan rasa nasionalisme Jepang kepada siswa, maka mereka disuruh membaca dan menulis puisi tentang Fuji, melihat dan menggambarkan Gunung Fuji, menyanyikan lagu-lagu tentang gunung ini, dan memotivasi mereka untuk mendaki gunung ini. Simbol negara ini juga digunakan dalam perancangan mata uang kertas dan koin serta perangko.

Nilai Religi

Miniatur Fuji di Onoterusaki, Shrine (Sumber: http://www.nippon.com)

Gunung Fuji sudah sejak lama dianggap sebagai gunung suci yang menjadi objek penyembahan masyarakat Jepang baik dari kalangan Shinto, Budha, maupun Tao. Gunung Fuji diyakini sebagai tempat tinggal para dewa bahkan dipercaya sebagai dewa itu sendiri.  Sejarawan Allen Grapard mengidentifikasi tiga kategori yang menjadikan pegunungan sakral terutama bagi penganut Shinto: sebagai sumber air yang penting untuk pertanian (kehidupan), sebagai tempat kontak dengan ilahi, dan sebagai tempat tinggal roh leluhur.

Shugendō muncul pada abad ke-12 sebagai agama pemujaan gunung yang menggabungkan kepercayaan Shinto, Tao dan Budhis. Kemudian pada abad ke-17 atau pada zaman Edo muncul anggota pemujaan agama yang berpusat di sekitar Gunung Fuji, yang disebut Fujikō. Mereka membangun miniatur Fuji yang disebut Fujizuka dengan tujuan agar ibadah Fuji lebih mudah diakses oleh anggotanya. Namun, pada saat sekarang ini, kunjungan melihat Fujizuka tidak hanya untuk kepentingan religi, tetapi juga untuk kepentingan rekreasi.

Keindahan Fujisan (Sumber: dokumentasi pribadi)

 

Baca juga : keseruan 4 musim di jepang yang berbeda

 

Agama dan kepercayaan terhadap Fujisan…

Pada awal abad ke-19, peziarah semakin banyak mendatangi Fuji, namun terdapat larangan bagi perempuan untuk memasuki area gunung apalagi mendaki gunung tersebut dengan alasan untuk menjaga kesakralan gunung. Seiring berjalannya waktu, Fuji semakin populer oleh media massa. Representasi dan konsepsi gunung telah berubah sepanjang sejarah, dari pusat agama dan spiritualitas, menjadi pusat rekreasi bagi wisatawan dari seluruh penjuru dunia, dari berbagai umur baik laki-laki maupun perempuan.

Hmm.. jadi penasaran bagaimana pengalaman wisata ke Mt. Fuji. Bagi Anda yang ingin mengetahui seputar wisata ke Gunung Fuji, tunggu tulisan berikutnya ya 🙂

 

Ikuti terus informasi terbaru tentang Jepang, dan tanyakan apa saja tentang Jepang kesini :

Whatsapp penulis 

Instagram @ykjpn

Line id : @yukkejepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *